Senin, 05 November 2012

Pembangunan Masyarakat Berpengetahuan (Knowledge Society)

kelompok 4
oleh 


Ahmad Parizki (1215121108)
Rusydina Izzati (1215121087)
Samuel Bistok (1215121106)


BAB I

PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang.
Pada masa orde baru kata-kata pembangunan, merupakan kata-katayang sangat familiar di kalangan rakyat Indonesia pada masa itu, hinggaPresiden Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia dijuluki sebagai Bapak Pembangunan REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) I s.d VII merupakan program pemerintah yang berkelanjutan dalam rangka mempertahankan kekuasaan hingga 32 tahun yang berakhir pada tahun 1998,yaitu tumbangnya orde baru digantikan dengan orde reformasi.
Pada masa orde reformasi ini, pembangunan tetap dilaksanakan denganmenitik beratkan pada pemulihan ekonomi, meningkatkan kehidupanberdemokrasi dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam IPTEKkhususnya di bidang teknologi , informasi dan komunikasi (TIK).
Membangun masyarakat berpengetahuan adalah membangun kesadaranmasyarakat mengenai pentingnya mempunyai visi dan wawasan iptek sebagaibekal untuk menghadapi abad ke-21. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan,hasrat untuk menggali dan mengembangkannya, perlu secara terus-menerusditumbuhkan, sehingga membudaya dalam kehidupan masyarakat. Denganbegitu, maka upaya menciptakan dan membangun sebuah masyarakatberpengetahuan akan menjadi kesadaran kolektif. Tanpa berbekal visi danwawasan iptek, sulit rasanya kita bisa survive dalam memasuki era global yang penuh tantangan dan sangat kompetitif itu. Sehubungan dengan hal tersebut, agenda utama bangsa kita adalah membangun basis kepemimpinan yangberwawasan dan visioner, serta berlandaskan pada iptek. Kepemimpinan yangdemikian tentu akan lebih kuat dan mampu menjangkau masa depan yang jauh.Ada ungkapan bijak dari seorang filsuf yang patut kita camkan:”leadershipmust be base on knowledge.”
Perubahan peradaban menuju masyarakat berpengetahuan (knowledgesociety). menuntut masyarakat dunia untuk menguasai keterampilan abad 21yaitu mampu memahami dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi(ICT Literacy Skills). Pendidikan memegang peranan sangat penting danstrategis dalam membangun masyarakat berpengetahuan yang memilikiketerampilan: (1) melek teknologi dan media; (2) melakukan komunikasi efektif;(3) berpikir kritis; (4) memecahkan masalah; dan (5) berkolaborasi.
Menyadari peran strategis pendidikan dalam mewujudkan masyarakatberpengetahuan tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional ( Kemendiknas )telah melakukan berbagai kegiatan yang didalamnya termasuk pemanfaatan danpendayagunaan TIK untuk memperluas akses terhadap pendidikan bermutu danmeningkatkan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan. Untuk mempercepatpendayagunaan dan pemanfaatan TIK untuk pendidikan telah dilakukanberbagai upaya untuk mendorong akselerasi dan peningkatan “ICT literacy skills”menuju “knowledge-based society”. Sehingga dalam program 100 hariKemendiknas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang pertama adalahpenyediaan internet secara massal di sekolah.

B. Ruang Lingkup.
Makalah ini berjudul Pembangunan Masyarakat Berpengetahuan( Knowledge Society ), isinya membahas tentang:
1. Kerangka teori tentang pembangunan.
2. Kerangka teori tentang masyarakat berpengetahuan.
3. Kerangka konsep tentang pembangunan masyarakat berpengetahuan

C. Tujuan.
Penulisan makalah ini bertujuan sebagai:
1. Memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi untukPendidikan.
2. Memahami konsep tentang pembangunan masyarakat berpengetahuan.
3. Menjadi bagian dari pembangunan masyarakat berpengetahuan.


D. Manfaat.
Tantangan masyarakat abad 21 ini sangat kompetitif dalam segalabidang,maka kita dituntut agar menjadi bagian dari pembangunan masyarakatberpengetahuan, manfaat penulisan makalah ini adalah :1.

Bagi Akademisi : memahami dan menjadi bagian dari pembangunanmasyarakat berpengetahuan.2.

Bagi Masyarakat : dapat memotivasi agar segera ambil bagian dalampembangunan masyarakat berpengetahuan dan dapat bersaing dengan bangsalain pada era globalisasi ini.



BAB II
KERANGKA TEORI DAN KONSEP

A. Kerangka Teori Pembangunan
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, merupakan rangkaian upayauntuk mewujudkan manusian seutuhnya, baik sebagai insan maupun sebagaisumber daya pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumber daya pembangunan, adalah menekankan harkat, martabat, hak dan kewajibanmanusia. Pembangunan manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompokumur tertentu, tetapi berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia.
Pengertian pembangunan sebagai suatu proses, akan terkait denganmekanisme sistem atau kinerja suatu sistem. Menurut Easton (dalam MiriamBudiardjo, 1985), proses sistemik paling tidak terdiri atas tiga unsur: Pertama,adanya input, yaitu bahan masukan konversi; Kedua, adanya proses konversi,yaitu wahana untuk ”mengolah” bahan masukan; Ketiga, adanya output, yaitusebagai hasil dari proses konversi yang dilaksanakan. Proses sistemik dari suatu sistem akan saling terkait dengan subsistem dan sistem-sistem lainnya termasuklingkungan internasional.
Proses pembangunan sebagai proses sistemik, pada akhirnya akanmenghasilkan keluaran (output) pembangunan, kualitas dari outputpembangunan tergantung pada bahan masukan (input), kualitas dari prosespembangunan yang dilaksanakan, serta seberapa besar pengaruh lingkungandan faktor-faktor alam lainnya. Bahan masukan pembangunan, salah satunyaadalah sumber daya manusia, yang dalam bentuk konkritnya adalah manusia. Manusia dalam proses pembangunan megandung beberapa pengertian yaitu manusia sebagai pelaksana pembangunan, manusia sebagai perencana pembangunan, dan manusia sebagai sasaran dari proses pembangunan.
Menurut Totok Mardikanto, pembangunan didefinisikan sebagai upayasadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan-perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat, terutama untuk jangka panjang.
Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai prosespemecahan masalah, baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalamsetiap jenjang birokrasi pemerintah, di kalangan peneliti dan penyuluh, maupunmasalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat.
Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan. Sedangkan definisi kedua menyiratkanbahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat, melainkan diperuntukkanpula bagi segenap stakeholder . Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa  pembangunan  bertujuan  merubah  “keadaan”  (rehabilitasi dan rekonstruksi—  pen) masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahanmasalah yang dihadapi. Maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan.

B. Kerangka Teori Masyarakat Berpengetahuan
Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Society) adalah proyek perbaikan berkelanjutan (Continues Improvement), dan padaproses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untuk pembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakatberpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiapgenerasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akanberbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untukmencapainya. Sifat sabar adalah penyeimbang sikap kerja keras tadi, bahwasetiap proses itu harus dinikmati kinerjanya, hingga bisa merasakan hasilnya,selalu ada variabel ruang dan waktu. Dimana sebelum bergerak menjauh, harusada satu langkah awal kecil yang dijalankan.
Menurut Drucker (1994), knowledge society adalah sebuah masyarakat dari berbagai organisasi dimana secara praktis setiap tugas tunggal akan dilakukan dalam dan melalui sebuah organisasi. Ciri-ciri masyarakatberpengetahuan adalah:
 Mempunyai kemampuan akademik
 Berpikir kritis
 Berorientasi kepada pemecahan masalah
Mempunyai kemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama-lamadan belajar lagi untuk hal-hal yang baru
Mempunyai keterampilan pengembangan individu dan sosial (termasuk kepercayaandiri, motivasi, komitmen terhadap nilai-nilai moral dan etika, pengertian secaraluas akan masyarakat dan dunia) (Manuwoto, 2005)
Dalam masyarakat berpengetahuan, bukanlah individu yang berkinerja,tetapi organisasi yang berkinerja. Seorang dokter misalnya, tentu mempunyaibanyak pengetahuan. Tetapi dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa pengetahuanyang diberikan oleh disiplin ilmu lainnya, yaitu fisika, kimia, genetika, dan lainsebagainya. Dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa hasil-hasil tes yang dilakukanoleh para ahli laboratorium tes darah, X-ray (rontgen), scanning otak, dan lain-lain. Di sisi lain, berbagai keahlian tertentu, seperti seorang dokter bedah syaraf,contoh dari knowledge worker, hanya bisa dihasilkan dari sekolah formal. Dengan demikian pendidikan menjadi pusat dari masyarakat berpengetahuan dan sekolah merupakan institusi kuncinya. Pernyataan itu diperkuat oleh NoelDempsey (Minister for Education and Science, Ireland, 2004) bahwa untuk bisakompetitif dalam ekonomi berpengetahuan global (global knowledge economy),semua pengambil keputusan untuk publik harus fokus pada pendidikan sebagaifaktor kunci dalam memperkuat daya saing, lapangan kerja dan keterpaduansosial. Drucker (1994) memperkuat kesimpulan itu dengan menyatakan bahwapekerja berpengetahuan lebih mempunyai kesempatan memperoleh aksesterhadap pekerjaan dan posisi sosial melalui pendidikan formal (Drucker, 1994).
Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk memberikan kepada setiaporang kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya sampai maksimum,baik sebagai individu maupun sebagai seorang anggota masyarakat. Seorangyang berpendidikan akan menjadi seseorang yang telah belajar bagaimanauntuk belajar, dan keseluruhan masa kehidupannya terus belajar, terutamamasuk dan keluar dari pendidikan formal (Drucker, 1994).
Transformasi dari struktur masyarakat yang ada, dengan pengetahuansebagai sumber daya utama untuk pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaandan sebagai faktor dari produksi, merupakan basis untuk menandai masyarakatmodern yang maju sebagai sebuah "masyarakat berpengetahuan." Dalam sebuah masyarakat berpengetahuan ukuran-ukuran lama dalam persainganseperti biaya tenaga kerja, sumbangan sumber daya dan infrastruktur digantikanoleh dimensi-dimensi seperti paten, penelitian dan pengembangan, sertaketersediaan pekerja berpengetahuan.
Untuk masyarakat berpengetahuan, jelas semakin banyak dibutuhkanpenguasaan pengetahuan, terutama pengetahuan tingkat lanjut. Pengetahuan itudibutuhkan oleh orang-orang yang pasca usia sekolah, dan kebutuhan itu terusmeningkat, di dalam dan melalui proses pendidikan yang tidak berpusat padasekolah tradisional, tetapi pendidikan berkelanjutan yang sistematik yang ditawarkan pada tempat kerja.

Dalam masyarakat berpengetahuan, akses terhadap kepemimpinanterbuka untuk semua orang. Akses terhadap kemahiran dari pengetahuan tidaklagi tergantung kepada perolehan pendidikan yang ditentukan pada usia tertentu. Pembelajaran akan menjadi alat dari individu yang tersedia baginya pada usiaberapa pun, karena begitu banyak keterampilan dan pengetahuan dapatdiperoleh dengan cara-cara pemanfaatan teknologi pembelajaran baru. Implikasilainnya adalah bahwa kinerja dari seorang individu, sebuah organisasi, sebuah industri atau sebuah negara dalam perolehan dan penerapan pengetahuan akanmeningkat menjadi faktor kunci persaingan untuk berkarir dan memperolehkesempatan dari para individu untuk berkinerja. Masyarakat berpengetahuan akan tak terelakkan menjadi jauh lebih kompetitif daripada masyarakat di masa-masa yang lalu. Dengan pengetahuan yang dapat diakses secara universal tidak ada alasan untuk tidak berkinerja. Tidak akan ada negara-negara miskin. Hanya akan ada negara-negara yang terabaikan.
Pusat kekuatan tenaga kerja dalam masyarakat berpengetahuan akanterdiri dari orang-orang dengan spesialisasi yang tinggi. Dalam dunia kerjaberpengetahuan, orang-orang dengan pengetahuan mempunyai tanggung jawabuntuk membuat dirinya dimengerti oleh orang-orang yang tidak mempunyai basispengetahuan yang sama. Sebenarnya investasi dalam masyarakatberpengetahuan bukanlah dalam mesin-mesin dan peralatan. Tetapi dalampengetahuan dari pekerja berpengetahuan. Tanpa itu, mesin-mesin yang sangatmaju dan canggih, tidak akan produktif.
Pengetahuan dalam masyarakat berpengetahuan haruslah sangatmempunyai spesialisasi untuk menjadi produktif. Ini mengakibatkan duapersyaratan baru: 1. pekerja berpengetahuan bekerja dalam kelompok-kelompok; dan 2. pekerja berpengetahuan harus mempunyai akses terhadapsebuah organisasi yang, dalam kebanyakan kasus, artinya pekerjaberpengetahuan harus menjadi pekerja dari sebuah organisasi.
Karena masyarakat berpengetahuan mensyaratkan sebuah masyarakatdari berbagai organisasi, yang organ sentral dan khususnya adalah manajemen.Semua organisasi itu membutuhkan manajemen apakah mereka menggunakanistilah itu atau tidak. Semua manajer mengerjakan hal yang sama apa pun bisnisdari organisasi mereka. Para manajer itu harus membawa orang-orang yangmasing-masing mempunyai pengetahuan yang berbeda, bersama untukberkinerja bersama. Intisari dari manajemen adalah membuat pengetahuanmenjadi produktif (Drucker, 1994).

C. Kerangka konsep tentang pembangunan masyarakat berpengetahuan
Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalahbentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artianpengetahuan (Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untukmengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup diinstitusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang,yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuanuntuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( KnowledgeSociety).
Fakta yang terjadi sekarang ini bahwa negara-negara industri menjadimasyarakat berbasis pengetahuan. Timbul pertanyaan tentang peran teknologiinformasi dan komunikasi (TIK) dalam membangun "masyarakatberpengetahuan" yang inovatif dalam dunia yang berkembang. Sebuahkesimpulan sentral adalah bahwa TIK dapat memberikan kontribusi utamaterhadap pengembangan berkelanjutan, tetapi peluang ini akan diikuti oleh resikoutama. Sebagai contoh, negara-negara yang sangat lamban perkembangannyamenghadapi resiko yang besar dari keterasingan karena mereka sering kurangkemampuan sosial dan ekonomi yang dibutuhkan untuk mengambil kelebihandari inovasi dalam TIK. Negara-negara berkembang perlu mencari jalan untukmengkombinasikan kompetensi mereka dalam teknologi dan sosial yang ada, jika mereka ingin mengambil keuntungan dari banyak kelebihan potensial dari TIK.
Pembangunan masyarakat berpengetahuan adalah sebuah proses yang kompleks dalam mengkombinasikan unsur-unsur teknologi dan sosial (termasuk kompetensi sumber daya manusianya) dalam cara yang produktif, untuk menciptakan infrastruktur informasi nasional. Berbagai strategi untuk membangun infrastruktur informasi nasional haruslah lebih daripada pernyataan-pernyataan tentang apa yang harus dilakukan. Para pengambil keputusan harusberorientasi pada aksi dan dibiayai dengan tepat.
Untuk negara-negara berkembang, membangun "masyarakat berpengetahuan" yang inovatif melibatkan berbagai inisiatif dalam dua area utama - pembangunan infrastruktur TIK yang pokok, dan penciptaan kondisi-kondisi yang akan mendorong pembangunan berbagai kompetensi sosial dalam bidang-bidang tertentu. Indonesia sebagai negara agraris justru masih minim dalam penyediaan informasi dan pengetahuan praktis dan strategis yang relevandengan bidang pertanian. Padahal untuk mengangkat masyarakat agraris (petani) konvensional menjadi petani berpengetahuan adalah denganpenyediaan sistem repositori pengetahuan yang mudah dan merata dijangkau oleh masyarakat. Disini peran TIK dapat didayagunakan untuk tujuan pemberdayaan sumberdaya manusia yang berpengatahuan dan profesional(Seminar 2002, Seminar 2004, Seminar 2005). Level konsumsi informasi denganberbagai interaksi dengan melihat, membaca, mendengar, dan berbuat (byseeing, reading, hearing, and doing) berbasis TIK (Seminar 2002, Seminar 2004)harus diakomodir melalui perpustakaan. Investasi dalam infrastruktur TIK perludilakukan secara paralel dengan investasi dalam berbagai kompetensi sosialyang timbul dari infrastruktur sosial dan institusional, termasuk pendidikan danpengetahuan teknis, begitu juga dengan institusi-institusi politik, ekonomi,kultural, dan sosial di negara-negara berkembang. Namun demikian, investasipada akumulasi teknologi dan keterampilan tidak menjamin bahwa berbagai trategi untuk membangun "masyarakat berpengetahuan" yang inovatif akan efektif atau masuk akal.
Banyak kesempatan untuk semua negara di tahun-tahun mendatanguntuk memanfaatkan yang terbaik dari potensi yang ditawarkan oleh TIK dalammendukung sasaran pengembangan utama mereka. Hal itu berlaku untuksasaran pada peningkatan mutu kehidupan dan keberlanjutan lingkungan dinegara-negara industri. Itu juga berlaku untuk sasaran pada pengurangankemiskinan dan menyumbang pada pengembangan berkelanjutan di negara-negara terbelakang dan berkembang. Pemanfaatan berbagai sarana TIK secarainovatif bisa memberikan titik awal untuk pengembangan "masyarakatberpengetahuan" secara inovatif.
Peran potensial dari TIK di negara-negara berkembang: 1) TIKmerupakan sarana untuk pengembangan, tetapi penggunaan yang efektif mensyaratkan investasi dari kombinasi kompetensi sosial dan teknologi; 2)Pemanfaatan TIK akan memberikan keuntungan terhadap investasi yang jauhlebih baik; 3) Kemampuan untuk menggerakkan investasi dalam TIK danpemanfaatannya secara efektif berbeda pada masing-masing negaraberkembang; 4) Idealnya, investasi-investasi tersebut diusahakan simultan,tetapi bila tidak mungkin, investasi dalam kompetensi sosial seharusnyadiprioritaskan; 5) kemitraan yang baru dibutuhkan sehubungan dengan berbagaikoordinasi, mobilisasi investasi, mengatasi berbagai masalah sosial di negara-negara berkembang.
Tantangan untuk pengambil keputusan negara berkembang adalahmenciptakan kerangka kebijakan yang membangkitkan, mendukung, danmembebaskan kemampuan rakyat untuk memanfaatkan TIK untuk menghasilkanpengetahuan dan sumber daya lainnya yang bermanfaat.
Masyarakat Indonesia masih belum mencapai knowledge society. Lihatsaja tenaga kerja Indonesia yang mencari kerja di negara-negara lain, merekamenjadi buruh, pembantu rumah tangga, supir, bukan knowledge worker. Akibatnya mereka banyak diperlakukan dengan kasar, tidak adil, bahkan ada yang upahnya tidak dibayar. Sementara di dalam negeri, pemilihan kepala daerah saja menjadi ajang perkelahian. Berbagai kekerasan terjadi akibat hasutan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Disamping itu masyarakat masih ditimpa oleh berbagai bencana alam, bencana penyakit yangbanyak memakan korban jiwa. Mengapa semua itu terjadi ? Salah satunyaadalah akibat dari masyarakat kita tidak berpengetahuan, belum menjadiknowledge society.
Bila tenaga kerja kita sudah menjadi knowledge worker, mereka bisabekerja di kantor-kantor dengan upah yang tinggi, menjadi perawat di rumahsakit yang masih dibutuhkan di berbagai negara dengan bayaran yang tinggi. Bila masyarakat kita sudah berpengetahuan, mereka tidak mudah dihasut, tidakmudah dirayu dengan money politic. Mereka memilih para calon kepala daerahdengan kesadaran akan akibat yang timbul bila mereka memilih orang yangsalah. Masyarakat yang berpengetahuan sudah memiliki informasi gejala-gejala alam sebelum adanya bencana yang lebih dahsyat. Mereka sudah dapat menjaga lingkungan dengan lebih baik, agar kesehatan mereka terjaga. Mereka tidak tinggal diam bila pemerintahnya melakukan hal-hal yang merusaklingkungan, dan pemerintahnya tidak bisa memaksakan kehendaknya secarasemena-mena.
Menurut para pakar, salah satu kunci membangun knowledge society adalah melalui pendidikan. Selain pendidikan formal, informal dan non-formal,masyarakat pun memerlukan pendidikan berkelanjutan (life long education).


BAB III
KESIMPULAN
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, merupakan rangkaian upayauntuk mewujudkan manusia seutuhnya, baik sebagai insan maupun sebagaisumber daya pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumber daya pembangunan, adalah menekankan harkat, martabat, hak dan kewajiban manusia. Pembangunan manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompokumur tertentu, tetapi berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia.
Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunanbertujuan merubah “keadaan” (rehabilitasi dan rekonstruksi— pen) masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. Maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan.
Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah bentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artianpengetahuan (Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untuk mengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup diinstitusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang,yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuanuntuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( KnowledgeSociety).
Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Society)adalah proyek perbaikan berkelanjutan (Continues Improvement), dan padaproses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untukpembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakatberpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiapgenerasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akanberbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untuk mencapainya.
 

Belajar Online




kelompok 5
oleh 
Anngi soraya
Fenny
Kamelia

 
BAB 1
 PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

Adapun latar belakang penulis dalam mengerjakan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas tentang belajar online khususnya untuk mata kuliah Pengantar Teknologi Komunikasi dan Informasi. Selain itu makalah ini dibuat sebagai wadah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai belajar online secara menyeluruh.
Pembelajaran elektronik atau e-Learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning. Dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah kejelasan tentang kegiatan belajar yang bagaimanakah yang dapat dikatakan sebagai e-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi pembelajaran) dari Internet, dapat dikatakan telah melakukan e-Learning?
Dari beberapa penyebab kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, informasi dan teknologi tersebut dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang dilakukan oleh para pakar pendidikan untuk memajukan bidang pendidikan tersebut ?” Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam makalah ini.

Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan fakta yang ada, dan karya-karya ilmiah yang telah ditulis oleh para pakar pendidikan, telah ditemukan upaya untuk memajukan dunia pendidikan, dengan menciptakan/memperkenalkan sistem pembelajaran yang efektif dan efisien bagi guru dan peserta didik.yang berupa pembelajaran jarak jauh dengan mempergunakan media elektronika yang dikenal dengan istilah Belajar Online/E-Learning.
Selanjutnya, berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulisan makalah ini kami beri judul “Belajar Online”.

1.2  Maksud dan Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.    Melatih mahasiswa mengembangkan bahan ajar melalui karya tulis.
b.   Mendidik mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak tentang materi yang
     dijelaskan.
c.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan materi belajar online secara   menyeluruh dengan cermat
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian/definisi belajar online  ?
2.      Apa manfaat belajar online ?
3.      Bagaimana sejarah dan perkembangan belajar online ?
4.      Apa keuntungan dan keterbatasan belajar online ?
5.      Apa saja elemen belajar online ?
6.     Apa saja aspek penting dalam belajar online ?

BAB II

ISI


2.1 Definisi Belajar Online
           
Pembelajaran online (juga dikenal dengan pembelajaran elektronik, atau e-Learning) merupakan hasil dari suatu pembelajaran yang disampaikan secara elektronik dengan menggunakan komputer dan media berbasis komputer. Bahannya biasa sering diakses melalui sebuah jaringan. Sumbernya bisa berasal dari website, internet, intranet, CD-ROM, dan DVD. Selain memberikan instruksi, e-learning juga dapat memonitor kinerja peserta didik dan melaporkan kemajuan peserta didik. E-learning tidak hanya mengakses informasi (misalnya, halaman web), tetapi juga  membimbing peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang spesifik (misalnya, tujuan). SimakBaca secara fonetik.
Potensi untuk aplikasi pendidikan pembelajaran online telah berkembang. Siswa tidak hanya dapat mengakses pengetahuan dari buku pelajaran, tetapi juga dapat mengakses materi pelajaran dari luar sekolah . Guru dan siswa dapat memperoleh informasi yang banyak, tidak terbatas, dan dapat di akses dari beberapa perpustakaan di seluruh dunia!
Siswa dan guru dapat meningkatkan pembelajaran di kelas dengan mengakses informasi dari berbagai sumber (database, perpustakaan, kelompok minat khusus), berkomunikasi melalui komputer dengan siswa lain atau dengan para ahli di bidang studi tertentu, dan saling bertukar informasi. Kegiatan seperti yang dilakukan oleh geografis nasional memungkinkan siswa dan guru bersama-sama untuk menuai keuntungan dari menghubungkan jaringan nasional siswa, guru, dan ilmuwan untuk menyelidiki berbagai topik.


Guru dan para siswanya dapat mengakses dokumen elektronik untuk memperkaya pengetahuannya. Siswa dapat berpartisipasi aktif karena pembelajaran online menyediakan sebuah lingkungan belajar yang interaktif. Siswa dapat menghubungkan informasi eletronik ke dokumen dan proyek mereka, membuat dokumen elektroniknya “hidup” dengan tombol hypertext.
Karena komputer memiliki kemampuan untuk memberikan informasi dengan berbagai media (termasuk cetakan, video, dan rekaman suara dan musik) komputer menjadi sebuah perpustakaan yang tidak terbatas. Betapapun siswa mampu untuk segera berkomunikasi dengan teks, gambar, suara, data, dan video dua arah. Interaksi yang dihasilkan dapat mengubah peran siswa dan guru. Guru dapat dipisahkan secara geografiis dari siswanya, dan siswa dapat belajar dari siswa lain di kelas seluruh dunia.


2.2 Sejarah dan Perkembangan Belajar Online

            E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
(1)        Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi     e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM   FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
(2)        Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994, CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
(3)        Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan   akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul             LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk             mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
(4)        Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan     interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar dan berukuran kecil.

2.3 Manfaat Belajar Online

- Dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.
            - Lebih menghemat biaya dan waktu.
            - Standar materi terjamin dengan baik.
            - Memperkuat pembelajaran tradisional dalam kelas.
            - Kuota peserta tidak terbatas.




2.4 Keuntungan dan Keterbatasan Belajar Online

2.4.1 Keuntungan Belajar Online
1.            Media yang bervariasi
Internet adalah sarana serbaguna yang memberikan informasi kepada pelajar di seluruh dunia. Situs-situs internet berisi media yang bervariasi, termasuk teks, audio, grafik, animasi, video, dan software yang dapat didownload.
2.            Informasi yang up-to-date
Sampai saat ini, para pendidik terbatas pada sumber-sumber yang ada di kelas atau gedung sekolahnya. Sekarang, dengan kemampuan untuk menghubungkan ke sumber-sumber di komunitas dan di seluruh dunia, membuka pandangan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Siswa dapat mengakses perpustakaan dan database dengan baik di luar batasan local, ini memperluas cakrawala yang lebih kecil dan sekolah pedesaan serta partisipasi individu dalam home schooling.
3.            Navigasi
Keuntungan utama dari internet adalah mampu untuk bergerak dengan mudah dalam dan antar dokumen. Dengan menekan tombol atau mengklik dari mouse, pengguna dapat mencari berbagai macam dokumen di berbagai lokasi tanpa bergerak dari komputernya.



4.            Bertukar ide
Siswa dapat terlibat dalam “percakapan” dengan para ahli di bidang studi tertentu. Selanjutnya, mereka dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang memungkinkan untuk bertukar ide dengan siswa lain, bahkan mereka yang tinggal di negara-negara lain.
5.            Komunikasi yang nyaman
E-mail memungkinkan orang-orang diberbagai lokasi untuk berbagi ide, sama seperti yang mereka lakukan di telepon sekarang, tanpa memainkan “tag telepon” begitu umumnya di kalangan orang sibuk. Pengguna dapat “bercakap” satu sama lain di waktu yang berbeda dan meresponnya sesuai kenyamanan mereka masing-masing. Rekaman yang ditukar dapat disimpan.
6.            Biaya rendah
Biaya hardware, software, waktu telepon, dan servis telekomunikasi adalah nominal dan menurun.

2.4.2 Keterbatasan Belajar Online
1.            Umur-materi yang tidak pantas
Salah satu hal yang menjadi keprihatinan beberapa topik pada jaringan komputer, utamanya di internet, adalah tidak cocoknya materi tersebut untuk siswa sekolah dasar. Iklan tembakau dan alkohol di internet dapat ditampilkan bersama permainan dan musik yang bisa dinikmati anak-anak.

2.            Hak cipta
Karena informasi begitu mudah untuk diakses, hal itu juga sangat sederhana untuk seorang individu untuk secepatnya mendownload sebuah berkas dan dengan beberapa perubahan, ia dapat mengerjakan tugasnya tanpa bersusah-susah payah lagi.
3.            Pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya
Diperkirakan setiap harinya ribuan situs baru ditambahkan ke internet. Pertumbuhan ini membuat penemuan informasi menjadi sangat sulit. Untuk membantu dalam pencarian informasi, beberapa perusahaan komersial dan universitas menyediakan mesin pencari dengan mengikuti link Web dan menampilkan hasil yang sesuai dengan pertanyaan Anda.
4.            Pendukung
Dukungan teknis yang baik harus tersedia. Tanpa dukungan dan manajemen yang bijaksana tersebut, sebuah jaringan komputer mungkin akan cepat mati. Untuk itu Teknis supervisor diperlukan untuk mengatur dan memelihara jaringan.
5.            Akses
Baik dengan cara sistem tertanam atau nirkabel atau modem, semua pengguna harus memiliki sebuah cara untuk menghubungkan ke jaringan.